AddThis

Enjoy Guy's cafe-bola @ 2012. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

The Jakmania dan Viking #Persib Bentrok di Tokyo?

“Kijang 1.. Kijang 1.. Harap posisi siaga, ada serombongan The
Jakmania memasuki area Festival Indonesia”, demikian suara
Norman Effendi, diplomat senior KBRI Tokyo yang juga bertugas
sebagai ketua pelaksana Festival Indonesia 2012, melalui radio
komunikasi saat melihat serombongan anak-anak muda Indonesia
beratribut oranye memasuki arena Festival Indonesia di Roppongi
Midtown kemarin (9/9).
“Harap dipantau, di lapangan sudah berkumpul ratusan Baraya
Viking atau Bobotoh Persib. Jangan sampai mereka bentrok!”, lanjut
Norman mengingatkan petugas keamanan Festival. Saya melihat
kekhawatiran di wajah Norman saat gerak rombongan The Jakmania,
pendukung Tim sepak bola Persija Jakarta, mendekati ratusan Baraya
Viking, pendukung Tim sepak bola Persib, yang sudah lebih dulu
berada di tengah lapangan Roppongi Midtown.
Kekhawatiran Norman pastinya beralasan, karena selain keduanya
adalah “musuh bebuyutan”, yang kerap kali terlibat bentrok di
Indonesia, suasana Festival Indonesia juga kerap memanas. Tahun
2011 lalu, sempat terjadi sedikit ketegangan saat Festival Indonesia
di Yoyogi Park. Saat itu ada orang Indonesia yang mabuk di tengah
keramaian. Untung saja ia sempat diamankan sehingga acara
berjalan lancar.
Oleh karenanya, pihak KBRI Tokyo untuk tahun 2012 ini
meningkatkan pengamanan Festival guna menghindari hal-hal yang
tidak diinginkan. Kalau sampai terjadi kerusuhan pengunjung, bukan
hanya memalukan KBRI Tokyo, tapi juga bangsa Indonesia.
Festival Indonesia adalah sebuah ajang yang digagas KBRI Tokyo
untuk menampilkan aneka seni budaya, musik, pameran kerajinan,
serta kuliner Indonesia. Tak heran, setiap diadakan Festival
Indonesia, ribuan orang Indonesia dari berbagai daerah di Jepang
menyempatkan hadir. Mereka umumnya adalah mahasiswa, pekerja
Indonesia (kenshusei), dan masyarakat Indonesia yang tinggal di
Jepang, selain tentunya warga Jepang dan asing lainnya.
Detik-detik pertemuan supporter kedua tim sepakbola yang
bermusuhan tersebut cukup menegangkan. Saat itu, sekumpulan
baraya Viking berseragam kaos biru Persib berteriak-teriak
menyanyikan yel-yel Persib. Tak lama kemudian, dari pinggir
lapangan, masuk sekumpulan orang beratribut oranye, warna khas
Tim Persija Jakarta.
Catatan pertemuan kedua supporter tim tersebut juga buruk. The Jak
100% Anti Viking, demikian pula sebaliknya. Deretan kisah bentrok,
yang kadang memakan korban jiwa, antara The Jak dan Viking
menghiasi berita surat kabar.
Permusuhan Viking Persib dengan the Jakmania sempat berkembang
pesat. Kedua pihak menebarkan kebencian dan mengeluarkan kaos
serta lagu yang saling menghujat. Sikap ini makin meningkatkan
kebencian sehingga justru beralih dari esensinya, yaitu mendukung
tim sepakbola menjadi membenci supporter lawan.
Komisi Disiplin PSSI telah mengeluarkan larangan akan hal-hal yang
menimbulkan kebencian. Upaya damai juga telah dirintis berbagai
pihak. Namun di balik itu, permusuhan masih tersimpan.
Latar belakang itulah yang menjadi kekhawatiran pihak panitia
Festival Indonesia 2012 Tokyo. Oleh karenanya, hampir seluruh
perhatian pengamanan siang itu diarahkan ke lapangan Midtown.
Akhirnya, saat yang dinanti terjadilah. Kedua supporter tim tersebut
bertemu dan berhadap-hadapan di lapangan. Wajah petugas
pengamanan tegang. Wajah para pendukung tim juga tegang.
Sesaat keduanya saling menatap. Kami, yang ada di pinggir lapangan
cuma bisa berharap.
Tiba-tiba, satu orang dari anggota The Jak dan Baraya Viking keluar
dan saling mendekati.
“Waduh duel nih“, sebagian orang saya dengar berkomentar.
Para petugas pengamanan dari KBRI Tokyo juga sudah ambil ancang-
ancang untuk berlari ke tengah lapangan apabila kemungkinan
bentrok terjadi. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka malah
berpelukan layaknya kawan lama yang tak bertemu. Ah, rupanya
mereka berkawan.
“Aman pak, keduanya berteman!”, lapor seksi pengamanan melalui
radio komunikasi pada Norman.
Kedua pendukung tim tersebut kemudian berpisah mengambil
tempat masing-masing di sisi panggung Festival Indonesia yang sore
itu menampilkan Grup Band Kotak dari Indonesia. Saat Tantri,
penyanyi Kotak, melantunkan lagunya, mereka semua sudah larut
dalam lirik dan kebersamaan.
Pemandangan kedua tim yang akur di Tokyo tersebut cukup
melegakan kita semua. Para pendukung Persib dan Persija di Jepang
memang memiliki semacam komunitas “resmi” yang kerap
berkumpul dan membuat aneka acara.
Di penutup acara, Dubes RI, M. Lutfi, dari atas panggung
mengingatkan lagi akan kebersamaan kita sebagai bangsa. Di luar
negeri, kebersamaan itu semakin terasa. Tak peduli ia Persib, tak
peduli ia The Jak, kita semua adalah Indonesia.
Mungkin sebagian besar dari mereka juga takut akan pengamanan
dari Kepolisian Jepang. Kalau mereka macam-macam, risikonya
dideportasi. Tapi nampaknya bukan itu saja alasan mereka. Byan,
ketua komunitas The Jak di Japan berkata pada saya, “Tidak ada
gunanya kita saling bentrok pak, kita semua bersaudara dan acara
ini adalah Festival Indonesia. Kita ingin menunjukkan bahwa
Indonesia adalah negeri yang ramah”.
Aaaah, andai hal itu juga bisa terjadi di Indonesia. Salam.
sumber : http://luar-negeri.kompasiana.com/20...ntrok-di-tokyo
http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=16370389

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

«««««««Let's Enjoy And Keep Calm»»»»»»
Perbarui Informasi Seputar Sepak Bola Hanya Di http://cafe-bola.blogspot.com